Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

6/20/10

Rahasia Kecerdasan Yahudi

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada tiga tahun di Israel karena menjalani housemanship di beberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi Pintar?"

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California , terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa Tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?

Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Baca selengkapnya>>

6/17/10

Nasi Merah Langganan Keraton

Senin, 24 Mei 2010 | 13:41 WIB. www.tempointeraktif.com/
Kuliner Nasi Merah. TEMPO/Akbar Tri Kurniawan

TEMPO Interaktif, Gunungkidul - Nama restoran ini Nasi Merah Mbah Jirak. Lokasinya di dekat jembatan Jirak yang tersohor. Tepatnya di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, sekitar 46 kilometer dari Kota Yogyakarta. Nama Jirak diambil dari nama sungai yang melintas di bawah jembatan itu. Sedangkan nasi merah dengan sayur lombok ijo-nya merupakan menu utama restoran ini.

Restoran tradisional khas Gunungkidul ini milik Arjo Martono dan Wasikem. Kini putri pasangan suami-istri itu, Suyatmi, yang mengelolanya. Pelanggannya banyak dan dari semua kalangan, bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi pelanggan setia.
Menurut Suyatmi, rombongan Raja Keraton Mataram Yogyakarta itu kerap mampir di resto ini saat melakukan kunjungan kerja ke Gunungkidul. Tapi Sultan dan istrinya, Ratu Hemas, kata Suyatmi, juga sengaja mampir hanya untuk menyantap nasi merah lombok ijo. "Setiap tahun bisa dua kali makan di sini," katanya.

Memasuki restoran ini, tak terlihat hal istimewa. Seperti kebanyakan resto tradisional dengan tiang-tiang dan dinding bambu. Tapi para pelanggannya rela datang dari jauh dan melintasi Bukit Pathuk, yang menghubungkan Kota Yogyakarta dengan Gunungkidul.

Tidak berapa lama menunggu, pelayan akan mengantarkan satu bakul nasi merah. Disusul sayur lombok ijo, daun pepaya, trancam (seperti karedok), dan aneka lauk, seperti ayam kampung goreng, empal daging, babat, dan ikan wader.

Nasi merahnya masih mengepul. Rasanya tidak berbeda dengan nasi putih biasa, tapi lebih pulen. Sedangkan sayur lombok ijo terasa gurih dan pedas. Campuran bawang putih, bawang merah, dan santan membuat kuah sayur terasa nikmat dan sedap.

Beras nasi merah ini ditanam dan ditumbuk sendiri oleh pemilik warung. Suyatmi menuturkan bahwa nasi merahnya berasal dari padi gogo rancak (sawah tadah hujan). Tidak mudah memperoleh warna merah pada beras gogo. Menurut Suyatmi, jika padi digiling dengan mesin disel, warnanya tidak semerah jika padi ditumbuk di lesung. Makanya mereka menumbuk sendiri. "Agar warnanya tetap merah," kata Suyatmi kepada Tempo, Sabtu pekan lalu.

Menyantap nasi merah lombok ijo bisa ditambah daun pepaya. Lauk daun pepaya di Gunungkidul termasuk khas. Empuk dan tidak pahit. Menurut Suyatmi, rasa pahit dihilangkan dengan mencampurkan garam dan ujung jambu mete saat perebusan pertama. Setelah daun pepaya terasa empuk, sisa air dibuang dan daun pepaya dicuci. "Lalu dimasak lagi," kata Suyatmi.

Daun pepaya biasanya ditemani sambal terasi. Cocol saja, dijamin Anda merasakan pedas, yang membuat berkeringat dan mengipasi mulut. Nah, saat pedas seperti ini, Anda bisa mendapatkan sensasi segar dengan menyeruput jus jambu atau kelapa muda gula jawa yang asli hasil pertanian warga Gunungkidul.

Selain lauk berupa gorengan aneka daging, ada menu "ekstrem", yakni belalang goreng. Tampilannya terlihat mengerikan. Banyak orang akan mengernyitkan dahi saat melihatnya. Salah satu pengunjung, Isnendi Muhammad Fatwa, awalnya ogah mencicipi. Tapi karena rasa penasarannya lebih kuat, dia pun mencoba satu.

"Rasanya gurih," ujarnya sembari tersenyum. Rupanya mahasiswa Universitas Gadjah Mada itu jadi doyan. Mulutnya tak berhenti mengunyah gurihnya belalang.

Menurut Suyatmi, belalang itu diolah sendiri oleh adiknya. Resepnya sangat sederhana, yaitu mencampurkan bawang putih, garam, dan sedikit penguat rasa. Sebelum dimasak, isi perut belalang dibuang terlebih dulu. Dulu belalang mudah didapat, tapi sekarang mulai sulit. "Musim-musim tertentu saja adanya," katanya.

Resto milik Arjo ini merupakan warisan dari leluhurnya. "Sudah tiga keturunan," kata Suyatmi. Resto ini awalnya berupa warung kecil di pinggir jembatan Jirak saat warga Gunungkidul berjuang merebut kemerdekaan Indonesia. Saat jalan raya dan jembatan direnovasi, 18 tahun lalu, warung ini berpindah menjauh 50 meter dari jembatan.
Namanya yang tersohor dan menu masakan yang banyak diminati tidak membuat keluarga Arjo membuka cabang. "Tidak punya tanah di tempat lain," kata Suyatmi merendah. Meski banyak tawaran, keluarga Arjo tetap menampik. Keluarga Arjo sengaja mempertahankan keberadaan Nasi Merah Mbah Jirak hanya di Semanu, Gunungkidul.

Akbar Tri Kurniawan

MENU

Nasi Merah: Rp 15 ribu
Sayur Lombok Ijo: Rp 10 ribu
Ayam Kampung: Rp 26 ribu
Belalang Goreng: Rp 10 ribu
Ikan Wader: Rp 15 ribu
Empal Daging: Rp 40 ribu
Kelapa Muda: Rp 4.000
Jus Jambu: Rp 4.000

KOMENTAR

Kartika Nurahman, warga Yogyakarta

"Kombinasi makanan Jawa yang luar biasa. Manisnya pas, suasana oke, pedasnya oke. Nasi merahnya cukup unik, dan saya yakin bergizi tinggi."


Isnendi Muhammad Fatwa, mahasiswa UGM Yogyakarta

"Nasi merahnya enak, ayam gorengnya mantap, dan sambalnya dahsyat."

Baca selengkapnya>>

3/20/10

Cerita Bersama Galang Press

Tepat ketika hari terakhir di GREBEG BUKU Yogyakarta, dengan slogan “Menuju Yogya sebagai Kota Wisata Buku”, sy bertemu dengan Pimred Penerbit GALANG. Penerbit galang adalah penerbit yang menerbitkan buku “Gurita Cikeas” karya George Junus Aditjondro yang banyak menarik perhatian publik dan sedang diburu. Ketika itu obrolan hangatpun terjadi, terlebih sy mengenalkan diri sebagai kader KAMMI. Topik pembicaraan seputar buku dan korupsi, isu korupsi kembali hangat menjadi pembicaraan seteleh kasus century mencuat.

Secara umum, buku “Gurita Cikeas” memiliki kesamaan gagasan dengan kammi, yakni upaya pemberantasan korupsi. buku ini berhasil masuk dalam ruang opini publik, setidaknya dengan kontroversi gagasan dan momentum peluncurannya. kammi perlu belajar memanfaatkan dua hal tersebut, gagasan dan momentum, untuk mengoptimalkan distribusi kebaikannya...

Pembicaraan sy dengan pimred Galang tidak berlangsung lama, karena masing-masing akan melanjutkan agendanya. Kami bersepakat untuk bertemu keesokan hari, (6 januari 2010) di kantor Galang Press...

Baca selengkapnya>>

Followers

KAMMI DAERAH SLEMAN ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

SIGN IN